Petuah dari Desa



              Satu hari perjalanan yang istimewa menuju Desa Seri Tanjung, Kec. Semende Darat Tengah Kab. Muara Enim, Sumsel dan bisa dibilang tidak direncanakan sama sekali untuk pergi kesini. Kira-kira Pukul 20.00 wib ibuku mendapatkan telpon dari kakaknya yang berada di Bangka bahwa nenek Lyn meninggal dunia. Berdukalah keluargaku saat mendengarnya.
            Setelah selesai bersiap-siap kami menjemput keluarga lainnya yang berada di Bandar Pagar Alam, kira-kira dari kota Lahat menuju Bandar Pagar Alam menempuh ±2 jam perjalanan. Karena sudah malam, suasana jalanan gelap dan aku kurang memperhatikan jalanan sekitar yang ternyata kalau dipikirkan membuatku merinding melihat jurang-jurang diseberang jalan, mana jalan sempit dan curam pula.
             Meninggalkan jalanan yang terjal, sekitar pukul 03.00 dini hari sampailah kami di rumah duka. Begitu masuk ke atas rumah terlihat nenek Lyn terbujur kaku di atas ranjang yang terlelak diujung ruangan, seluruh tubuhnya ditutupi dengan kain. Seketika berhamburlah anaknya yang baru tiba dengan derai air mata dan rasa tidak percaya. Aku gemetar dan gugup sekali terdengar suara dagdigdug bergema di dalam tubuhku, seorang anak manusia telah berpulang kerahmatullah. Hal ini berarti juga mengingatkan kita bahwa tidak ada satupun makhluk bernyawa dimuka bumi ini yang akan kekal hidup didalamnya.
Sumber : https://www.google.com/search?

Aku termenung, seperti kilas balik apa yang sudah aku perbuat selama hidup, sudahkah aku berbakti kepada kedua orang tua? Perbuatan baik apa yang sudah aku perbuat dan apa yang belum terwujud? Dan bagaimana pula ibadahku dengan Sang Pencipta Allah swt? Ketika ruh sudah berpisah dari raga, apalah daya yang selama ini kita banggakan, sombongkan, bahkan kita agungkan, darah biru, suku dan ras jika hanya tinggal nama? Sedangkan apa yang kita bawa menghadap Allah swt selain amal ibadah yang kita perbuat selama hidup dan sehelai kain kafan?

Terdengar suara panci presto mendesis bak kereta api, segerombolan sanak saudara dan tetangga memenuhi ruang dapur. Memasak, bercengkrama kemudian berbisik-bisik entah apa saja yang sedang mereka bicarakan. Aku sendiri melihat nenek Lyn dimandikan saat itu, aku juga merasa lemas dan gugup sekali melihatnya. Begitupun dengan prosesi pemakamanpun aku turut hadir diperistirahatan terakhirnya.


Pict. Prosesi pemakaman nenek Lyn

Mari kita mendoakan Alm. Nenek Lyn semoga diberikan tempat terbaik di alam sana. Amiin ya rabb.

Sumber : https://www.google.com/search?

           Setelah selesai, saya dan keluarga berziarah ke makam Kakek Mawan, orang tua Ibuku dan selanjutnya pergi ke Desa Tenam Bungkuk untuk berziarah ke makam Kakek Badrun, orang tua Bapakku. Disepanjang jalan banyak sekali jurang, ini namanya Semendo rasa Bandung. Indah sekali, disuguhi dengan bukit-bukit nan hijau, aliran sungai-sungai kecil, dan hamparan sawah yang sudah menguning pertanda padi sudah siap untuk dipanen kalau bahasa orang sini namanya ngetam (panen padi).

Pict. ziarah ke makam kakek Badrun (My Dad)





Vid. Semendo rasa Bandung. lol

            Bertemu dengan Nenek Ada, istri dari Kakek Badrun yang Alhamdulillah masih terlihat begitu sehat dan kuat menjalani hari tua bersama pasangan barunya. Menjalani hidup yang tidak terduga dengan segala macam kemungkinan didalamnya, semoga selalu berbahagia.
            Kemanapun kamu pergi atau istilahnya merantau ingat Allah swt, kerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan jauhi semua larangan-Nya. InsyaAllah hidup berkah ran. Aku duduk dengan seksama mendengarkan nasehat beliau. Banyak hal yang bisa aku pelajari dari one day trip ini, bisa melihat pemandangan yang indah, bertemu dengan orang-orang bijak yang sudah berpengalaman merasakan pahit getirnya kehidupan sampai akhirnya nanti ajal menjemput. 


Komentar