Mari
kita menyebut ini perjalanan agar lebih menyenangkan dan bukannya bekerja.
Waktu yang kita tempuh sekarang adalah ±15 hari mengarungi 4 kecamatan yang
terdiri dari 25 desa di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Pict. Meeting point sebelum cuss lokasi pertama.
Akhir
februari 2018, saya dan team akan
mengunjungi Kecamatan Banyuasin I dari kota Palembang hanya memakan waktu ±2
jam. Desa pertama yang didatangi adalah Desa Cinta Manis (Apakah cinta itu ada
manis-manis kaya Le Mineral?Haha)
yang kemudian menjadi base camp untuk
mendatangi desa di sekitarnya dan Kecamatan Rantau Bayur. Menyenangkan dong
yaa, kaya back to nature melihat desa
yang penuh dengan pepohonan dan dedaunan hijau apalagi ada sungai yang besar
diseberang jalan (wah, air haha..).
Disini orang menyebut antara perbatasan sungai dan daratan adalah laut dan
darat, walau nyatanya ini adalah sungai Musi dan bukannya laut Musi wkwk.
Vid.
Aku suka perjalanan ini wkwk.
Keesokan
harinya, mari kita menyeberangi sungai ini karena ada masyarakat yang tinggal
diseberang sana. Demi apapun kira-kira pukul 14.00 wib saya dan ketiga teman lainnya
akan menyeberangi sungai. Tapi, alangkah tidak beruntungnya kami karena
tiba-tiba angin kencang menerpa beserta hujan-hujan manja itu. Baru pukul 15.00
wib hujan udah reda (sedikit gerimis) dan angin pun sudah menepi, gak kebayang
dan gak lucu harus naik speed boats
dengan keadaan cuaca yang tidak bersahabat. Pikiran jelek udah bercabang
kemana-mana takut perahunya nanti terbalik ketiup angin, terpelanting dari
perahu dan tenggelam karena gak bisa berenang haha OMG!. Survey Gizi Nasioal terkait stunting itulah yang saya kerjakan beberapa hari kedepan.
Pict.
Antusiasme masyarakat ketika ada Posyandu dan tentunya ada saya hehe.
Disini
juga ada kalangan (pasar yang cuma ada dua kali dalam seminggu), kan jarang
banget kalo di kota ada kalangan seperti ini. Melihat-lihat keadaan sekitar
pasar dan berinteraksi dengan pengunjung sekaligus penduduk disini semoga saja
mendapatkan informasi lebih untuk mendapatkan data yang kami butuhkan
kedepannya.
Vid. Kalangan di Desa Cinta Manis
Selesai
mendapatkan data di desa-desa disekitarnya, kami lanjutkan ke Kecamatan
Banyuasin II kebetulan saya dan partner
dapat lokasi survey di desa Sungsang
II. Desa ini bersebrangan dengan pulau Bangka Belitung (kata masyarakat
sekitar). Pengalaman perjalanan baru tentunya bagi saya, karena perjalanan
kesini OMG jalan-jalan pada rusak dan
berlubang membuat mobil yang kami tumpangi bergoncang-goncang ria.
Pict.
Ada ranjau dimana-mana
Sesampainya
di Desa Sungsang saya harus menaiki bentor atau becak karena akses jalan kesana
tidak bisa masuk mobil. Setelah sekian lama gak naik becak ternyata becak-becak
udah pada ngungsi disini ya, pikirku. Haha.
Vid. Jalanan utama disini cuma muat untuk transportasi
becak dan motor.
Karena
dekat dengan sungai jadinya ya gini, seru aja hanya sekedar melewati dermaga
untuk melihat-lihat keadaan yang ada disini. Ketika malam datang, deburan air
menerpa tiang-tiang rumah, suara-suara jagkrik dan binatang kecil lainnya
begitu terasa oleh panca indera. Base
camp di desa ini yaitu dirumah Bidan Desa.
Pict. Mau berlayar bersama gak? Hehe
Ada
pengalaman yang tidak menyenangkan ketika saya disini, karena terkena diare haha makan makanan sembarangan dan gak hygiene. Teman yang lain aja sampai gak
makan makanan di desa ini dan lebih milih makan-makanan instan/oatmeal/susu
kotak. Tapi, saya yang gak bisa tahan laper ya jadinya makan aja deh beli-beli makanan disana alhasil
saya diare.
Pict. Sampah-sampah dibawah
rumah warga yang bejibun banyaknya.
Untung cuma dua hari
disini gak bisa dibayangkan semisal saya harus tinggal lebih lama disini,
sampah dimana-mana kadang juga ada babi hutan di bawah rumah. Hiks. Kata penduduk di Desa ini suplai
air bersih aja gak ada selain mengandalkan air hujan. Ya iyalah mau buat sumur
dimana kalau mendirikan rumah di atas pesisir sungai. Dulu katanya ada PDAM
masuk ke desa ini tapi ada yang rusak sehingga belum dibenarkan kembali dan
lebih memilih mengandalkan air hujan.
Harus
bersyukur sekali sama kehidupan yang kita punya jika dibandingkan dengan mereka
yang BAB aja gak punya jamban yang sehat, selain cemplung sana sini. Walaupun
begitu, daya beli di desa ini lumayan tinggi loh. Perempuan disini seperti emas berjalan. Entahlah apakah itu
emas asli atau palsu, ukuran kalung-kalung, gelang-gelang yang mereka kenakan
besar-besar hihi.
Meninggalkan desa yang begitu sangat
disayangkan, berlanjut ke Kecamatan Suak Tapeh di desa Sedang. Baguslah ketika
kepala desa mengarahkan perjalan melewati perkebunan sawit yang begitu luas. Seperti sedang melakukan touring di perkebunan sawit. Indahnya,
perkebunan ini (sayangnya gak terdokumentasikan hehe).
Pict.
Desa yang sepi karena dipenuhi dengan perkebunan sawit dan karet.
Base camp
kali ini dirumah Pak RT Desa Sedang, awalnya base camp direncanakan dirumah Pak Kades. Tapi, berhubung Pak
Kades dan Istri sudah lama menikah dan belum juga diberikan baby terlebih lagi ketika sampai di
rumahnya ternyata hanya terdapat satu kamar di rumah yang lumayan besar ini. Haha.
Betapa lucunya ketika dipasangkan
dengan partner yang sama-sama gak
bisa mengendarai motor. Alhasil kita kemana-mana bonceng tiga sama anak pak RT wkwk. Semua data sudah selesai dikumpulkan
saatnya pulang dan revisi.
Vid. See you yaa..
Ada pertemuan ada juga perpisahan. Banyak
canda, tawa, kesal dan perjuangan ketika berbelasan hari bersama. Tenang,
kenangan indah selalu terpatri di dalam sanubari girls.










Nice
BalasHapusMakasih wkwk
Hapus