Nusantara sehat merupakan program dari
Kementerian Kesehatan untuk penguatan pelayanan kesehatan primer. Setelah
melihat penjelasan tentang Nusantara Sehat, Tujuan dan lain hal yang menyangkut
NS. Saya merasa tergerak untuk mengikuti program tersebut.
Setelah jauh-jauh hari, saya sudah
mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes yang diadakan oleh Panitia
Nusantara Sehat (secara saya tidak begitu pintar dalam mengikuti tes). Apa yang
saya pelajari? Belajar apa saja menyangkut tes Nusantara Sehat seperti
psikotes, tips dan trik komunikasi saat LGD (Leaderless Group Discussion),
serta belajar cara menjawab pertanyaan yang baik saat wawancara.
Waktu itu (kira-kira tanggal berapa ya?
Lupa hehe), ada loker Nusantara Sehat Individu saya langsung berniat untuk
mendaftar. Tapi, sepertinya saya belum mendaptkan izin dan dukungan dari orang
tua. Kemudian tidak lama berselang dari itu pada tanggal 04-09 April 2018
dibuka kembali Nusantara Sehat Team Based, tidak perlu berpikir lama lagi saya
memberikan pengertian dan akhirnya orang tua saya mengizinkan mengikuati tes
Nusantara Sehat tersebut dan langsung membuka website untuk melakukan
serangkaian registrasi online
(Sebenarnya saya sempat ketinggalan informasi mengenai ini, tapi Alhamdulillah
Allah swt maha baik ya).
Alhamdulillah singkat cerita saya lulus administrasi
dan akan melaksanakan tes tahap II pada tanggal 18 April 2018 di Direktorat
Poltekkes Kemenkes Palembang. Semua berkas sudah saya persiapkan kecuali
legalisir Ijazah dan transkip nilai (Saya tidak tahu kalau akan berakhir dengan
kepusingan dan masalah terhadap diri sendiri. Huft) Okay, dengan
sedikit tidak tenang saya bisa melegalisir tanggal 16 April, pikirku.
Saat itu tanggal 15 April 2018, posisi
saya sedang berada di rumah orang tua tepatnya di Kab. Lahat, Sumsel dan akan segera berangkat menuju
Kota Palembang, kira-kira menempuh 7 jam perjalanan untuk ke sana.
Keesokan harinya, senin 16 April 2018
dengan keajaiban yang sungguh luar binasa biasa, Kantor Direktorat Poltekkes Kemenkes
Palembang “TUTUP” bukan sehari itu saja tapi besoknya sama saja, dikarenakan ada
acara Diesnatalis di Gedung gizi. Dalam hati berkata “ OMG, demi apapun senin-selasa kantor
tutup, bukan tanggal merah, bukan hari kejepit nasional dan taraa kantor tutup.
Setelah itu rabunya saya harus tes disini. Gimana caranya saya mau legalisir
ijazah? Lantas berkas gak lengkap kan ya? Pikirku sedikit kalut! Saya udah gak
bisa apa-apa lagi selain berdo’a kepada Allah swt agar tetap diizinkan
mengikuti tes ini. Apakah ini pertanda? Belum tes aja udah ada masalah.
Saya
datang dengan sedikit gugup, tapi untungnya berkas yang belum lengkap bisa
disusulkan kembali. Alhamdulillah leganya hatiku. Dari pukul 07.30 hingga 15.30 wib, saya mengikuti serangkaian tes. Pertama tes psikotes, awalnya saya kurang fokus
(sebaiknya kalau mau tes kalian harus fokus sefokus fokusnya karena waktu terus
berjalan guys). Kedua yaitu tes LGD, Alhamdulillah lancar-lancar saja walaupun sedikit
gugup juga. Untungnya semua anggota diskusi itu pemikirannya dewasa jadi gak
ada debat-debat lebay yang menegangkan. Ketiga tes Wawancara, diselingi dengan
tes kepribadian yang sumpah berbuku-buku sampe capek loh jari-jariku menjawab pertanyan demi pertanyaan dengan waktu
yang terbatas.
Siang
namun cuaca diluar sedang gerimis-gerimis manja, saatnya istirahat sholat
makan. Kemudian dilanjutkan kembali tes wawancara, saya merupakan salah satu
peserta yang dipanggil pertama kali untuk melakukan tes wawancara. OMG, jujur saya gugup sekali karena ini perdana
saya wawancara kerja. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui tim asesornya
terdiri dari seorang psikolog dan Dirut Poltekkes Kemenkes Palembang itu
sendiri. Mereka yang akan mewawancarai saya, duh cobaan apalagi ini? Pikirku
dalam hati.
Jujur
saja saat wawancara “mungkin” mereka menganggap saya termasuk orang yang tidak
bisa diharapkan, bertubi-tubi pertanyaan, tapi tidak satupun saya jawab dengan
baik dan benar (Jawaban menurut versi saya, tapi entah pendapat mereka yang
sebenarnya).
Selesai
wawancara psikolog itu bilang “jangan nangis yaa..” deg deg hua hiks huaha hiks
hiks, seketika saya langsung down. Ini namanya menguji mental saya bener deh.
Berkecamuk pikiran saya antara pasrah, kecewa, dan sedih. Oke, oh begini ya
rasanya wawancara kerja. Sehingga saat melanjutkan tes kepribadian lagi saya
sudah tidak bersemangat dan dengan pasrah saya menjawab-jawab saja pertanyaan itu.
Malamnya
saya merasa tidur tidak nyenyak, makan tak nafsu dan terasa ada beban berat
dikepala, pusing sekali (saya sedikit stress memikirkan wawancara tadi siang haha).
Allahuakbar,
Alhamdulillah “ saya lulus cadangan” awalnya kaget, apa sih yang dimaksud
dengan lulus cadangan. Agak kecewa karena gak dapet notif lulus utama. Ternyata
setelah membaca maksud dari lulus cadangan adalah saya lulus seleksi dan
diprioritaskan dipanggil pembekalan dan saya
tidak perlu mengikuti tes lagi untuk periode selanjutnya. Tinggal menunggu
pemanggilan pembekalan saja. Sabar menunggu sampai tiba saatnya nanti,
Bismillah semoga saya, alifa dan tiak dipanggil pembekalan secara bersama-sama.
Amiin.
“Menunggu
juga proses. So, Selamat menunggu!”

Komentar
Posting Komentar